Benteng Rotterdam Diponegoro

Benteng Rotterdam Diponegoro

Benteng Rotterdam Diponegoro-Pangeran Diponegoro menulis babad Doponegoro (20 Mei 1831). Dokumen aksara pegon yang panjang aslinya lebih dari 1.000 halaman kertas ukuran folio itu dituntaskan dalam tempo nyaris 9 bulan (20 Mei 1831-2 Februari 1832).

Sesudah Pangeran meninggal dunia, dokumen itu dirawat oleh keluarganya dan disalin atas keinginan Perkumpulan Seni dan Pengetahuan Pengetahuan Batavia (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) di tahun 1865-1856, kata Sejarawan Peter Carey yang penulis buku P. Diponegoro, Takdir dan Kuasa Ramalan, Selasa (6/4/2021).

Dokumen babad itu terdiri dari dua sisi. Sisi pertama, yang secara sepintas sebagai sepertiga dari keseluruhnya buku, menceriterakan mengenai riwayat Tanah Jawa, dimulai dari jatuhnya Majapahit (seputar 1527) sampai Kesepakatan Giyanti (1755).

Baca Juga:

Cara edit bukti transfer m banking BCA

KlikBCA Individual Informasi Rekening: Internet Banking

Sedang sisi ke-2 , menceritakan mengenai kehidupan dan sepak-terjang Pangeran sendiri, semenjak kelahirannya tahun 1785 sampai pengasingannya di Manado.

Babad itu dicatat saat kemelut di antara Pangeran dan keluarganya capai pucuknya. Ingat intensif kreasi Pangeran lebih dari 100 halaman folio dalam satu bulan (Carey 2008:733).

Tidak terlampau mengejutkan bila Pangeran sanggup menumpahkan semua perhatian dan fokusnya di tengah-tengah keluarga yang selalu cekcok.

Walau sebenarnya, pengarang yang mana bisa tahan menulis pada tempat ruangan yang panas dalam benteng kota, yang warganya acuh tidak acuh, bila tidak ingin disebutkan memusuhi, dan rekanan dengan famili dekatnya yang kerap berkelahi, yang tidak pahami apa yang ia kerjakan?

Apa ada penderitaan di pengisolasian dan jerih payah mengarang yang lebih luar biasa dari ini?, katanya.

Tetapi, begitu luar biasa dokumen yang dibuat. Sumber tuntunan-ajaran Diponegoro yang anti-Belanda untuk anak-anaknya yang tumbuh di Manado dan Makassar, akan bisa dibuktikan jadi salah satunya hasil kreasi sastra besar di zaman Jawa kekinian , catat Carey.

Itu kreasi otobiografi pertama dengan bahasa yang berada di Indonesia, dan yang pada tanggal 22 Juni 2013 diterima oleh Komite Penasihat Internasional UNESCO (Organisasi Pengajaran, Pengetahuan Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) untuk ditempatkan dalam Daftar Daya ingat Kelompok Dunia (International Registrasi of the Memori of the World).

Tetapi, di Indonesia sendiri pernyataan internasional ini tidak berdengung dan dokumen tersebut masih tinggal sebagai harta karun nasional yang terselinap, katanya.

Pembukaan kreasi besar ini awali dengan baris-baris berikut (Babad Dipanegara I:6):

  1. Saya rentangkan hati hatiku dalam irama Mijil [yang pedih]. Dibuat untuk melipur keinginan hati, dibikin di kota Manado tanpa dilihat siapa saja terkecuali oleh karunia Hyang Agung.
  2. Banyak telah merasa dalam hati. Mengenai semua perlakuan tidak membahagiakan [di periode lalu]. Karena itu saat ini hatiku berketetapan. Bagaimana jadi perlakuan perlakuanku bila tidak ada pula ampunan Hyang Agung?
  3. Malu dan penderitaan sudah saya mainkan. Tetapi permintaanku ialah jika semua yang selesai lantas direlakan saja,(dan) supaya keluargaku betul-betul mematuhi agama Nabi untuk memperoleh bantuan.

 

Leave a Reply